' Di sebuah ladang yang subur tertancaplah dua buah bibit tanaman'
Bibit yang pertama berkata, “Aku ingin tumbuh besar. Tinggi menjulang ke langit. Aku ingin menghujamkan akarku dalam-dalam di tanah ini. Aku ingin tunasku menyampaikan salam musim hujan. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku. Biarkan saja matahari, angin, air hujan yang sejuk menyapa dan menumbuhkanku.” Dan bibit itu tumbuh. Akarnya mulai menerobos tanah yang gelap. Dia biarkan air hujan menyapa tunasnya yang kuncup. Angin menerpa dan meniupkan kencang atau semilir. Dia biarkan matahari menyapa daunnya yang mulai mengintip ke luar. Dia tersenyum menyampaikan salam pada semesta bersama keceriaan anak-anak yang bermain di sekitarnya. Ya, bibit itu tumbuh semakin besar.
Bibit yang kedua bergumam, "Aku takut jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini. Aku tak tahu apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah di sana gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku ke atas, bukankah nanti keindahan tunasku akan terbuka dan siput-siput a serangga akan mencoba memakannya? Dan jika aku tumbuh dan merekah pasti semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak! Akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman”. Dan bibit itu pun menunggu dalam kesendirian. Beberapa pekan kemudian seekor kambing menerobos ladang dan menemukan bibit kedua tadi. Dan Hap! Kambing itu menyantap, dan mengunyah daun-daun bibit dan tak lama kemudian tercabut.
Begitulah... hidup adalah kumpulan resiko dan pilihan. Kita senantiasa dihadapkan pada berbagai pilihan untuk bergerak, maju atau diam. Sikap, kemampuan bereaksi, pilihan untuk bergerak atau diam dipengaruhi oleh pikiran dan hati. Seperti kata Anis Mata, “Pikiran adalah pusat yang mengendalikan tindakan-tindakan dan menciptakan realitas-realitas kita”. Berbeda cara berpikir, berbeda isi hati maka berbeda pula sikap dan tentu berbeda pula hasilnya.
Seperti kedua benih di atas. Sikap positif, sikap berani membuat hidup lebih berarti dan langkah lebih percaya diri. Hidup yang diliputi keberanian membuat kita tumbuh dan berusaha melawan setiap tantangan yang menyapa. Ketika kita berpikir positif, maka segala jalan itu akan terbentang. Kekuatan akan terhimpun. Rintangan yang menghadang akan siap kita terjang. Kesulitan menjadi peluang untuk berusaha dan berprestasi. Doa - doa penuh keyakinan akan mengiringi. Kekuatan di bawah sadar akan melahirkan spontanitas menuju prestasi.
Sedangkan orang yang memandang hidup dengan kaca mata negatif, memandang hidup dengan ketakutan maka dalam dirinya akan berkecamuk rasa tidak mungkin, sulit, mustahil. Menjadikannya pribadi yang pesimistik. Tidak bersemangat. Energi untuk menghadapi masalahnya akan melemah dan matanya seolah tertutup dari jalan keluar. Dia cenderung akan ragu, diam, tidak melangkah. Dan dia akan “mati” oleh ketakutannya sendiri.
Semua orang memiliki rasa takut, namun mereka yang berani melawan rasa takut mereka dan tetap bergerak maju justru merekalah yang selalu mendapat kemenangan (King’s Guard, Yunani). Dan pemberani bukanlah mereka yang tidak memiliki rasa takut namun mereka adalah yang berhasil menghadapi dan mengendalikan rasa takutnya.
Maka sahabat, kembangkan pikiran dengan jiwa yang riang, hati tenang, dan berpikir serta melihat sisi lain dengan positif. Awali membangun kebiasaan dengan bahasa positif, dan itu akan membentuk kita menjadi pribadi positif. Bila seseorang mendominasi diri dengan kosa kata negatif, tumbuhlah rasa tidak mampu, tidak bisa dan tidak mungkin, tidak semangat, padahal belum mencobanya. Sama halnya, ketika kita berpikir sukses dan bahagia, maka kita akan sukses dan bahagia. Jika kita berpikir gagal, kalah dan menderita maka kita akan gagal kalah dan menderita“Allah bagaimana menurut persangkaan hamba-Nya, bukan?
Jangan menunggu esok, sahabat. Tak ada waktu untuk ragu, karena seperti kata Hasan Al Basri “nilai dirimu tergantung hari ini, bukan esok. Kalau besok engkau beruntung, maka keuntunganmu akan bertambah…” karenanya bulatkan tekad di hati dan melajulah meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Meski berat kita harus berbuat dan melangkah. Jangan ditunda, sebab kita tidak tahu apa yang terjadi dengan kita esok hari.
By Eric Kairupan *Di copas dari postingan Achmad Siddik Thoha...*
No comments:
Post a Comment